Sunday, June 8, 2014

Let Go and Move On!



Siapa sih yang belum pernah patah hati? Saya pikir semuanya pasti pernah merasakan setidaknya satu kali seumur hidup. Seringkali kita, bahkan saya dulu bertanya-tanya
Apakah ini yang saya dapatkan setelah berusaha dan berjuang sekian lama? Hanya sakit kah yang saya dapatkan?”

Nah sekarang, coba baca potongan kalimat dibawah ini:

a young boy proposed to a girl.. but sadly, she rejected him. 
however he was not sad, and his friend asked him “why aren’t you sad?”
the young boy replied, “why should I feel sad? I lost one who never loved me, but she lost someone who really loved her

Saya tidak sengaja menemukan kata-kata ini di Tumblr.
Khususnya buat yang lagi patah hati nih, gimana perasaannya setelah membaca kata-kata di atas?
Benar sekali, jika kita melihat dari sisi yang berbeda, kita bukanlah pihak yang merugi karena cinta kita yang bertepuk sebelah tangan. Namun, mereka lah yang merugi karena telah kehilangan orang yang sangat mencintai mereka.

Sering kali ketika kita tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan, hidup ini terasa suram dan tanpa arah. Hal ini terkadang malah membuat orang-orang yang peduli dengan kita menjauh karena kita yang tidak bersemangat dan terlalu berlarut dalam kesedihan. Padahal, jika kita terlarut dalam kesedihan, diri kita seorang lah yang paling merugi. Apalagi jika orang yang kita cintai telah bahagia dengan orang lain. Mungkin mereka tidak akan peduli dengan keadaan kita yang diam-diam terjatuh dan tersakiti oleh kebahagiaan mereka.

Kenapa kita harus menghukum diri kita sendiri dengan cara terpuruk seperti itu? Bukankah lebih baik kita menjadikan itu sebagai tantangan untuk diri kita, bahwa kita bisa bangkit dan merubah diri menjadi lebih baik?
Daripada sedih dan pusing berlarut-larut, alangkah lebih baiknya jika kita bangkit dan merubah diri menjadi sosok yang lebih baik lagi. Karena ini adalah ‘balas dendam’ terbaik untuk menunjukkan pada mereka bahwa kita adalah sosok yang kuat. (Karena galau karena lawan jenis sudah terlalu mainstream! :p)
Dan yang paling penting, demi diri kita sendiri. Dengan menjadi sosok yang lebih baik, kita pasti akan menarik pasangan yang lebih baik pula :)

Saya selalu percaya, bahwa Allah pasti selalu menyiapkan yang terbaik untuk kita. Namun, kita juga harus berusaha untuk menjadikan diri kita untuk pantas mendapatkan yang lebih baik. Seperti dalam janji-Nya dalam surat Annur ayat 26:
“….wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”


Mungkin bagi sebagian orang jika diajak merubah diri, ia pasti berkata “Kita kan harus jadi diri sendiri. Gak boleh munafik.” Sebenernya, kata-kata ‘be yourself’ yang sering kita dengar ini menjebak lho.  Karena secara tidak sadar, kata-kata itu seringkali menghambat kita untuk merubah diri kita menjadi sosok yang lebih baik.
Don’t be yourself, but be your-best-self.  Kalau kita masih bisa berubah menjadi yang lebih baik yaa kenapa tidak? :)
(Untuk lebih jelasnya, bisa baca di postingan saya sebelumnya. Don't be Yourself)

Kini, setelah kejadian yang mematahkan hati itu, saya mempunyai motivasi tersendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Saya ingin membuktikan kepada mereka, dan seluruh dunia bahwa saya bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi. Lebih mandiri, lebih pintar, lebih sholehah, dan yang terpenting dapat menempatkan perasaan saya pada tempatnya.
Sekarang, saya sudah mulai dapat mengikhlaskan. Saya sudah tidak peduli dengan mereka. Biarlah mereka bahagia, dan saya pun akan menggapai kebahagiaan saya sendiri. Walaupun ada kekecewaan yang mendalam, tapi karena merekalah saya dapat berubah.

Ingat. Ikhlas atau tidak ikhlas, yang pergi akan tetap pergi. Yang sudah terjadi, akan tetap terjadi.

Daripada langkah kita terasa semakin berat dan terbebani, mari coba kita belajar untuk lebih ikhlas dan melepaskan. Karena hanya hal itulah yang akan membuat segalanya menjadi lebih ringan dan indah.

Dan sekarang, saya bisa menjawab pertanyaan saya pada paragraf pertama tadi.
Apakah ini yang saya dapatkan setelah berusaha dan berjuang sekian lama? Hanya sakit kah yang saya dapatkan?

Tidak. Namun saya mendapat pelajaran berharga. Jika saya tidak merasakan kejadian itu, saya mungkin tidak dapat menyadari bahwa teman-teman saya begitu berharga. Saya tidak mungkin kuat menghadapi itu sendirian kalau mereka tidak menguatkan saya setiap saat.
Jika saya tidak merasakan kejadian itu, saya mungkin akan selalu memakai perasaan saya tanpa menggunakan logika. Dan jika saya tidak merasakan kejadian itu, saya mungkin tidak bisa sekuat sekarang.
Kuncinya, gunakanlah logika dan perasaanmu sesuai dengan porsinya. Karena ada hal yang dapat kita selesaikan dengan perasaan, namun ada juga hal yang harus kita selesaikan menggunakan logika. Allah memberikan kita perasaan dan juga logika, kenapa hanya menggunakan salah satunya? :)

No comments:

Post a Comment