Siapa
sih yang belum pernah patah hati? Saya pikir semuanya pasti pernah merasakan
setidaknya satu kali seumur hidup. Seringkali kita, bahkan saya dulu
bertanya-tanya
“Apakah
ini yang saya dapatkan setelah berusaha dan berjuang sekian lama? Hanya sakit
kah yang saya dapatkan?”
Nah sekarang, coba
baca potongan kalimat dibawah ini:
a young boy proposed to a girl.. but sadly,
she rejected him.
however
he was not sad, and his friend asked him “why aren’t you sad?”
the young boy replied, “why should I feel sad? I lost one who never loved me, but she lost someone who really loved
her”
Saya tidak sengaja
menemukan kata-kata ini di Tumblr.
Khususnya buat yang
lagi patah hati nih, gimana perasaannya setelah membaca kata-kata di atas?
Benar sekali, jika
kita melihat dari sisi yang berbeda, kita bukanlah pihak yang merugi karena
cinta kita yang bertepuk sebelah tangan. Namun, mereka lah yang merugi karena
telah kehilangan orang yang sangat mencintai mereka.
Sering
kali ketika kita tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan, hidup ini terasa
suram dan tanpa arah. Hal ini terkadang malah membuat orang-orang yang peduli
dengan kita menjauh karena kita yang tidak bersemangat dan terlalu berlarut
dalam kesedihan. Padahal, jika kita terlarut dalam kesedihan, diri kita seorang
lah yang paling merugi. Apalagi jika orang yang kita cintai telah bahagia
dengan orang lain. Mungkin mereka tidak akan peduli dengan keadaan kita yang
diam-diam terjatuh dan tersakiti oleh kebahagiaan mereka.
Kenapa kita harus menghukum diri kita sendiri dengan cara terpuruk seperti itu? Bukankah lebih baik kita menjadikan itu sebagai tantangan untuk diri kita, bahwa kita bisa bangkit dan merubah diri menjadi lebih baik?
Daripada
sedih dan pusing berlarut-larut, alangkah lebih baiknya jika kita bangkit dan merubah
diri menjadi sosok yang lebih baik lagi. Karena ini adalah ‘balas dendam’
terbaik untuk menunjukkan pada mereka bahwa kita adalah sosok yang kuat. (Karena galau karena lawan jenis sudah terlalu mainstream! :p)
Dan yang paling penting, demi diri kita sendiri. Dengan menjadi sosok yang lebih baik, kita pasti akan menarik pasangan yang lebih baik pula :)
Saya selalu percaya, bahwa
Allah pasti selalu menyiapkan yang terbaik untuk kita. Namun, kita juga harus
berusaha untuk menjadikan diri kita untuk pantas mendapatkan yang lebih baik. Seperti
dalam janji-Nya dalam surat Annur ayat 26:
“….wanita-wanita
yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik (pula)…”
Mungkin
bagi sebagian orang jika diajak merubah diri, ia pasti berkata “Kita kan harus
jadi diri sendiri. Gak boleh munafik.” Sebenernya, kata-kata ‘be yourself’ yang
sering kita dengar ini menjebak lho.
Karena secara tidak sadar, kata-kata itu seringkali menghambat kita
untuk merubah diri kita menjadi sosok yang lebih baik.
Don’t be yourself, but be your-best-self. Kalau kita masih bisa berubah menjadi yang
lebih baik yaa kenapa tidak? :)
Kini, setelah kejadian
yang mematahkan hati itu, saya mempunyai motivasi tersendiri untuk berubah
menjadi lebih baik. Saya ingin membuktikan kepada mereka, dan seluruh dunia
bahwa saya bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi. Lebih mandiri, lebih
pintar, lebih sholehah, dan yang terpenting dapat menempatkan perasaan saya
pada tempatnya.
Sekarang, saya sudah
mulai dapat mengikhlaskan. Saya sudah tidak peduli dengan mereka. Biarlah
mereka bahagia, dan saya pun akan menggapai kebahagiaan saya sendiri. Walaupun
ada kekecewaan yang mendalam, tapi karena merekalah saya dapat berubah.
Ingat. Ikhlas atau tidak ikhlas, yang pergi akan
tetap pergi. Yang sudah terjadi, akan tetap terjadi.
Daripada langkah kita
terasa semakin berat dan terbebani, mari coba kita belajar untuk lebih ikhlas
dan melepaskan. Karena hanya hal itulah yang akan membuat segalanya menjadi
lebih ringan dan indah.
Dan sekarang, saya bisa
menjawab pertanyaan saya pada paragraf pertama tadi.
Apakah
ini yang saya dapatkan setelah berusaha dan berjuang sekian lama? Hanya sakit
kah yang saya dapatkan?
Tidak. Namun saya mendapat pelajaran berharga. Jika saya
tidak merasakan kejadian itu, saya mungkin tidak dapat menyadari bahwa
teman-teman saya begitu berharga. Saya tidak mungkin kuat menghadapi itu
sendirian kalau mereka tidak menguatkan saya setiap saat.
Jika saya tidak merasakan kejadian itu, saya mungkin akan
selalu memakai perasaan saya tanpa menggunakan logika. Dan jika saya tidak
merasakan kejadian itu, saya mungkin tidak bisa sekuat sekarang.
Kuncinya, gunakanlah logika dan perasaanmu sesuai dengan
porsinya. Karena ada hal yang dapat kita selesaikan dengan perasaan, namun ada
juga hal yang harus kita selesaikan menggunakan logika. Allah memberikan kita
perasaan dan juga logika, kenapa hanya menggunakan salah satunya? :)